Minggu, 06 Januari 2013

Pembelajaran Apresiasi Sastra Sekolah Dasar


BAB II
PEMBAHASAN

A.    HAKIKAT SASTRA ANAK

1.      PENGERTIAN, SIFAT, DAN HAKIKAT SASTRA ANAK
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita mendengar orang menyebutan atau mengucapkan ata sastra anak, cerita anak atau bacaan anak. Namun kenyataannya, istilah sastra anak dalam beberapa kamus istilah sastra, seperto Kamus Istilah Sastra (Panuti Sudjiman, 1990: 71-72) dan Kamus Istilah Sastra (Abdul Rozak Zaidan, et al. 1994: 181-184), tidak ditemukan lema itu. Demikian juga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998: 786-787) atau Kamus Bahasa Indonesia Besar (Kamisa, 1997: 473) pun tidak kita temukan lema atau sublema sastra anak.
Kata sastra anak merupakan dua patah kata yang dirangkaikan menjadi satu kata sebut, yaitu dari kata sastra dan kata anak. Kata sastra berarti ‘karya seni imajinatif dengan unsure estetisnya dominan yang bermediumkan bahasa’ (Rene Wellek, 1989). Karya seni imajinatif yang bermedium bahasa itu dapat dalam bentuk tertulis ataupun dalam bentuk lisan.  Sementara itu, kita anak disini diartikan sebagai ‘manusia yang masih kecil’ (KBBI, 1998: 31) atau ‘bocah’ (KBBI, 1998: 123). Tentu pengertian anak yang dimaksud di sini bukan anak balita dan bukan pula anak remaja, melainkan anak yang masih berumur antara 6-13 tahun, usia anak sekolah dasar. Jadi, secara sederhana istilah sastra anak dapat diartikan sebagai ‘karya seni yang imajinatif dengan unsure estetisnya dominan yang bermediumkakan bahasa, baik lisan ataupun tertulis, yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak’.
Sementara itu, Riris K. Toha-Sarumpaet (1976: 21) menyatakan bahwa sastra anak adalah karya sastra yang dikonsumsi anak dan diurus serta dikerjakan oleh orang tua. Pendek kata, sastra anak ditulis oleh orang tua untuk anak. Orang tua jugalah yang mengedit, mengilustrasi, mencetak, menerbitkan, mendistribusikan, memilihkannya di rumah atau di sekolah, seringkali membacakannya, dan sesekali membicarakannya. Orang dewasa pulalah yang membimbing anak dalam memilih dan mengusahakan bacaan yang baik bagi anak.
Sebenarnya, tidak semua sastra anak itu ditulis oleh orang tua. Penulis sastra anak dapat juga dilakukan oleh anak-anak itu sendiri, misalnya anak yang telah berumur sepuluh atau sebelas tahun ke atas, sudah dapat menulis puisi atau catatan harian dalam majalah Bobo dan sebagainya. Memang pada umumnya sastra anak itu ditulis oleh orang dewasa  atau orang tua untuk anak-anak. Sementara itu, istilah cerita anak merupakan istilah yang umum untuk menyebut sastra anak yang semata-mata bergenre prosa, seperti dongeng, legenda, mite yang diolah kembali menjadi cerita anak., dan tidak termasuk jenis puisi anak atau drama anak. Istilah bacaan anak lebih menekankan pada media tertulis, bahasa tulis, dan bukan bahasa lisan. Bacaan anak tidak terbatas pada hal-hal yang bersifat pengetahuan, keterampilan khusus, komik atau cerita bergambar, cerita rakyat, dan sebagainya.
Sifat dan hakikat sastra anak harus sesuai dengan dunia dan alam kehidupan anak-anak yang khas milik mereka dan bukan milik orang dewasa. Sifat sastra anak lebih menonjolkan unsure fantasi. Sifat fantasi ini terwujud dalam eksplorasi dari yang serba mungkin dalam sastra anak. Anak-anak menganggap segala sesuatu, baik benda hidup maupun benda mati, itu berjiwa dan bernyawa, seperti diri mereka sendiri. Segala sesuatu itu masing-masing dianggap mempunyai imbauan dan nilai tertentu. Di situlah letak kekhasan hakikat sastra anak, yaitu bertumpu dan bermula pada penyajian nilai dan imbauan tertentu yang dianggap sebagai pedoman tingkah laku dalam alam kehidupan semesta (Sarumpaet, 1976: 29).


2.      CIRI SASTRA ANAK
Riris K. Toha-Sarumpaet (1976: 29-32) mengemukakan bahwa ada 3 ciri yang menandai sastra anak itu berbeda dengan sastra orang dewasa. Tiga ciri pembeda itu berupa:
a.       Unsur pantangan
b.      Penyajian dengan gaya secara langsung
c.       Fungsi terapan
Unsur pematangan merupakan unsur yang secara khusus berkenaan dengan tema dan amanat. Secara umum, dapat dikatakan bahwa sastra anak menghindari atau pantangan terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut masalah seks, cinta yang erotis, dendam yang menimbulkan kebencian, kekejaman, prasangka buruk, kecurangan yang jahat, dan masalah kematian. Apabila ada hal-hal buruk dalam kehidupan itu yang diangkat dalam sastra anak, misalnya masalah kemiskinan, kekejaman ibu tiri, dan perlakuan yang tidak adil pada tokoh proagonis, biasanya amanatnya lebih desederhanakan dengan akhir cerita menemui kebahagiaan atau keindahan, misalnya dalam kisah Putri Salju, Cindrella, Bawang Merah Bawang Putih, Limaran, Cindelaras, dan Putri Angsa.
Penyajian dengan gaya secara langsung adalah bahwa sajian cerita merupakan deskripsi secara singkat dan langsung menuju sasarannya, mengetengahkakan gerak yang dinamis, dan jelas sebab-sebabnya. Deskripsi itu diselingi dengn dialog itu terwujud suasana yang tersaji perilaku tokoh-tokohnya amat jelas, baik sifat, peran, maupun fungsinya dalam cerita. Biasanya lebih cenderung digambarkan sifat tokoh yang hitam putih. Artinya, setiap tokoh baik atau tokoh buruk.
Fungsi terapan adalah sajian cerita yang harus bersifat informative dan mengandung unsur-unsur  yang bermanfaat, baik untuk pengetahan umum, keterampilan khusus, maupun untuk pertumbuhan anak. Fungsi terapan dalam sastra anak ini ditunjukkan oleh unsure-unsur intristik yang terdapat pada teks karya sastra anak itu sendiri, misalnya dari judul Petualangan Sinbad akan memberikan informasi yang berupa kata atau nama tkoh, anak akan bertambah pengetahuannya tentang negeri asal kata atau tokoh itu, letak negeri itu, apa yang tetrkenal di negeri itu, dan sebagainya.

3.      JENIS SASTRA ANAK
Seperti halnya karya sastra secara umum, jenis sastra anak juga terdapat bentuk prosa, puisi, dan drama. Jenis prosa dan puisi sastra anak adalah yang paling banyak ditulis orang. Sementara itu, jenis karya sastra drama anak sangat jarang ditulis dan bukan berarti tidak ada.
Hakikat dan sifat sastra anak dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yang dilihat dari kehadiran tokohnya, yaitu:
a.       Jenis karya sastra anak yang mngetengahkan tokoh utama yang berasal dari alam benda mati, sperti batu, sungai, air, lautan, septum, dan kue.
b.      Jenis karya sastra anak yang mengetengahkan tokoh utama yang berasal dari alam benda hidup yang bukan manusia, seperti bunga sepatu, buaya, iakn hiu, pelandu, si Kancil, dan rumput
c.       Jenis karya sastra anak yang mengetengahkakn tokoh utama yang berasal dari alam manusia itu sendiri, seperti dalam kisah Cinderella, Putri Kerudung Merah, Bawang Merah dan Bawang Putih, dan Putri Salju. Jenis sastra anak yang pertama dan kedua itu meskipun tidak menghadirkan tokoh manusia, tokoh-tokohnya tetap dapat berbicara, berperilaku, dan berpersaan seperti halnya pada diri manusia.



4.      FUNGSI SASTRA ANAK
Sastra anak memiliki fungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian anak, serta menuntun kecerdasan emosi anak. Pendidikan dalam sastra anak memuat amanat tentang moral, pembentukan kepribadian anak, mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta member pengetahuan keterampilan praktis bagi anak. Fungsi hiburan dalam sastra anak dapat membuat anak merasa bahagia atau senang membaca, senang dan gembira mendengarkan cerita ketika dibacakan atau dideklamasikan, dan mendapatkan kenikmatan atau kepuasan batin sehingga menuntun kecerdasan emosinya.

B.     APRESIASI SASTRA ANAK
1.      PENGERTIAN APRESIASI
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, apresiasi berarti:
a.       Kesadaran terhadap nilai-nilai seni dan budaya
b.      Penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu
c.       Kenaikan nilai barang karena harga pasarnya naik atau permintaan akan barang itu bertambah (KBBI, 1998: 46).
Arti pertama kata apresiasi itu bertalian dengan kesadaran (orang atau masyarakat) terhadap nilai-nilai seni dan budaya. Setiap karya seni dan budaya itu tentu memiliki nilai-nilai yang berguna bagi kehidupan, baik nilai keindahan, nilai religious, nilai pendidikan, nilai hiburan, maupun nilai moral. Semua nilai yang terkandung dalam karya seni dan budaya membimbing manusia ke arah kehidupan yang lebih beradab, lebih baik, da lebih manusiawi. Kesadaran orang terhadap nilai-nilai dalam karya seni dan budaya seperti itulah yang disebut apresiasi.
Arti kedua kata apresiasi bertalian dengan penilaian atau penghargaan terhadap sesuatau hal atau masalah. Penilaian atau penghargaan semata-mata diukur dengan nilai uang. Memnghargai sesuatu hal atau masalah berarti pula kita ini member perhatian, member penghormatan, menjunjung tinggi sesuatu itu, mengindahkn hal yang diamanatkan, dan kalau perlu melaksanakan sesuatu hal atau masalah yang terkandung di dalamnya. Ada sesuatu nilai yang terdapat dalam karya (seni atau budaya) yang perlu digali, lalu hasilnya kita manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Arti ketiga kata apresiasi bertalian dengan dunia ekonomi. Harga barang dan nilai suatu mata uang ditentukan oleh pasaran. Jika permintaan barang dan mata uang tertentu di pasaran sedang besar atau meningkat maka nilai barang atau mata uang tertentu lesu, lemah atau turun drastic maka apresiasi terhadap barang atau mata uang itu tentu merosot juga.
Sehubungan dengan yang kita bahas adalah pembelajaran sastra anak, maka pengertian apresiasi yang kita maksudkan disini adalah pengertian pertama dan kedua, yaitu:
·         Kesadaran kita terhadap nilai-nilai seni dan budaya (sastra anak)
·         Penilaian atau penghargaan kita terhadap sesuatu (sastra anak)

2.      PENGERTIAN APRESIASI SASTRA ANAK
Panuti Sudjiman (1990: 9) dalam buku Kamus Istilah Satra memberi batasan apresiasi sastra adalah penghargaan (terhadap karya sastra) yang didasarkan pada pemahaman. Sementara itu, Abdul Rozk Zaidean et. al. (1994: 35) dalam buku Kamus Istilah Sastra mendefinisikakn apresiasi sastra adalah penghargaan atas karya sastra sebagai hasil pengenalan, pemahaman, penafsiran, penghayatan, dan penikmatan yang didukung oleh kepekaan batin terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra itu.
Berdasarkan pendapat ketiga pakar tersebut, maka apresiasi sastra dapat kita paparkan sebagai berikut:
a.       Apresiasi sastra anak adalah penghargaan (terhadap karya sastra anak) yang didasarkan pada pemahaman.
b.       Apresiasi sastra anak adalah penghargaan atas karya sastra anak sebagai hasil pengenalan, pemahaman, penafsiran, penghayatan, dan penikmatan yang didukung oleh kepekaan batin terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra anak.
c.       Apresiasi sastra anak adalah kegiatan menggauli cipta sastra anak dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra anak.

3.      KEGIATAN APRESIASI SASTRA
Dalam melaksanakan apresiasi sastra anak dapat melakukan beberapa kegiatan, antara lain kegiatan apresiasi langsung, kegiatan apresiasi tidak langsung, pendokumentasian, dan kegiatan kreatif.
a.       Kegiatan Apresiasi Langsung
Kegiatan apresiasi langsung adalah kegiatan yang dilakukan secara sadar untuk memperoleh nilai kenikmatan dan kekhidmatan dari karya sastra anak yang diapresiasikan.
Kegiatan apresiasi langsung meliputi kegiatan sebagai berikut:
·         Membaca sastra anak.
·         Mendengar sastra anak ketika dibacakan atau dideklamasikan.
·         Menonton pertunjukan sastra anak dipentaskan
b.      Kegiatan Apresiasi Tak Langsung
Kegiatan apresiasi tak langsung adalah suatu kegiatan apresiasi yang menunjang pemahaman terhadap karya sastra anak. Cara tidak langsung ini meliputi tiga pokok, yaitu:
·         Mempelajari teori sastra
·         Mempelajari kritik dan esai sastra
·         Mempelajari sejarah sastra
c.       Pendokumentasian Karya Sastra
Usaha pendokumentaasian karya sastra juga termasuk bentuk apresiasi sastra yang secara nyata ikut melestarikan keberdayaan karya sastra. Bentuk apresiasi atau penghargaan terhadap karya sastra dengan cara mendokumentasikan karya sastra dari kepunahan. kegiatan dokumentasi dapat meliputi pengumpulan dan penyusunan semua data karya sastra, baik yang berupa artikel-artikel atau karangan dalam surat kabar, majalah makalah-makalah, skripsi, tesis, disertasi, maupun buku-buku sastra.
Untuk latihan dokumentasi bagi siswa-siswa dapat diminta membuat klipig, berupa guntingan-guntingan dari Koran atau majalah, dngan topik tertentu.
d.      Kegiatan Kreatif
Kegiatan kreatif juga termasuk salah satu kegiatan apresiasi sastra. Dalam kegiatan ini dapat dilakukan adalah belajar menciptakan karya sastra, misalnya menulis puisi atau membuat cerita pendek. Hasil ciipta siswa dapat dikirimkan dan dimuat dalam majalah dinding, majalah sekolah, surat kabar, ataupun majalah sastra. Selain itu, juga dapat dilakukan kegiatan rekreatif, yaitu menceritakan kembali karya sastra yang dibaca, yang didengar atau yang ditontonnya. Kegiatan kreatif dan rekreatif jelas menunjang pemahaman dan penghargaan terhadap karya sastra, yaitu mengajak mereka berminat untuk bergaul dan mencintai karya sastra.

4.      TINGKAT-TINGKAT APRESIASI SASTRA
      cara meningkatkakn apresiasi seseorang terhadap satra anak itu dapat melalui kegiatan membaca sastra anak sebanyak-banyaknya, mendengarkan pembacaan sastra anak sebanyak mungkin, dan menonton pertunjukan sastra anak adalah salah satu cara dalam upaya mmeningkatkan apresiasi sastra anak.
Sementara itu, menurut Yus Rusyana (1979: 2) menyatakan ada tiga tingkatan dalam apresiasi sastra, yaitu:
a.       seseorang mengalami pengalaman yang ada dalam cipta sastra anak, ia terlibat secara emosional, intelektual, dan imajinatif
b.      setelah mengalami hal seperti itu, kemudian daya intelektual seseorang itu bekerja lebih giat menjelajahi medan makna karya sastra yang diapresiasinya
c.       seseorang itu menyadari hubungan sastra dengan dunia di luarnya sehingga pemahaman dan penikmatannya dapat dilakukan lebih luas dan mendalam.

5.      MANFAAT APRESIASI SASTRA ANAK
      lima manfaat bagi kehidupan ketika mengapresiasi sastra anak, yaitu
a.       manfaat estetis;
b.      manfaat pendidikan;
c.       manfaat kepekaan batin atau sosial;
d.      manfaat menambah wawasan;
e.       manfaat pengembangan kejiwaan atau kepribadian.

Estetika artinya ilmu tetang keindahan atau cabang filsafat yang membahas tentang keindahan yang melekat dalam karya seni. Sementara itu, kata estetis artinya indah, tentang keindahan atau mempunyai nilai keindahan. Manfaat estetis dalam apresiasi sastra anak adalah manfaat tentag keindahan yang melekat pada sastra anak. Manfaat estesis seperti itu mempu member hiburan, kepuasan, kenikmatan, dan kebahagiaan batin ketika karya itu dibaca atau didengarnya.
Mendidik artinya memelihara dan member latihan (ajaran) mengenai akhlak, budi pekerti, dan kecerdasn pikir. Manfaaat pendidikan pada apresiasi sastra anak adalah memberi berbagai informasi tentang proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui pengajaran dan latihan.
Peka artinya mudah terasa, mudah tersentuh, mudah bergerak, tidak lalai, dan tajam menerima atau meneruskan pengaruh dari luar. Manfaat kepekaan batin atau kepekaan social dalam mengapresiasi sastra anak adalah upaya untuk selalu mengasah batin agar mudah tersentuh oleh hal-hal yang bersifat batiniah ataupun sosial.
Wawasan artinya hasil mewawas, tinjauan atau pandangan. Manfaat menambah wawasan dalam mengapresiasi sastra anak artinya memberi tambahan informasi, pengetahuan, pengalaman hidup, dan pandangan-pandangan tentang kehidupan.
Manfaat pengembangan kejiwaan atau kepribadian dari apresiasi sastra anak adalah mampu menghaluskan budi pekerti seorang apresiator.

C.    PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA ANAK
      Pembelajaran apresiasi sastra anak di sekolah dasar meliputi tiga tahapan yang harus dilalui seorang guru, yaitu :
1.      Persiapan Pembelajaran
      Tahap persiapan pembelajaran apresiasi sastra anak di sekolah dasar bagi seorang guru dapat menyangkut dengan dirinya, yaitu
a.       persiapan fisik, dan
b.       persiapan mental.
Fisik seorang guru harus sehat jasmaninya, tidak sakit-sakitan. Mentalnya pun harus sehat jiwanya, tidak sakit ingatan.
Sementara itu, hal-hal teknis yang perlu dipersiapkan adalah:
1)      Memilih Bahan Ajar
      Bahan ajar dapat diperoleh dari buku-buku bacaan sastra anak di perpustakaan sekolah, perpustakaan pemerintah daerah, took buku ataupun buku pelajaran sekolah yang sudah tersedia. Namun apabila belum tersedia dalam buku pelajaran sekolah, seorang guru harus mencarinya ke tempat-tempat tersebut. Bahan ajar harus sesuai dengan anak didik sehingga pertimbangan usia anak didik menjadi pilihan utama. Keberagaman tema, keberagaman pengarang, dan bobot atau mutu karya sastra yang akan dijadikan bahan ajar juga menjadi pertimbangan yang matang. Menentukan metode harus disesuaikan dengan kemampuan guru dan kebutuhan serta kesesuaian dengan keadaan siswa. Menuliskan persiapan mengajar harian merupakan salah satu bentuk keprofesionalan seorang guru. Penulisan PMH itu juga menunjukkan bahwa guru siap secara lahir batin hendak menyampaikan pembelajaran apresiasi sastra anak di sekolah dasar.
2)      Menentukan Metode Pembelajaran
Beberapa metode untuk pembelajaran apresiasi sastra anak di sekolah dasar yang sekiranya cocok dapat digunakan, antara lain:
a)      Metode berkisah;
b)      Metode pembacaan
c)      Metode peragaan
d)     Metode Tanya jawab
e)      Metode penugasan
Metode berkisah dapat diberikan oleh bapak atau ibu guru di  depan kelas dengan membawakan sebuah kisah. Secara lisan metode berkisah dapat disampaikan selama 15-25 menit untuk menarik perhatian siswa. Metode berkisah tidak sama dengan metode berceramah. Kisah tidak semata-mata disampaikan monoton dengan narasi, tetapi perlu selingan dialog dan humor dengan suara yang berubah-ubah.
Metode pembacaan perlu diberikan kepada siswa untuk melatih vocal. Pembacaan puisi dengan suara nyaring kan lebih menarik. Dalam melaksanakan metode pembacaan ini perlu diperhatikan irama, intonasi, lagu kalimat, jeda, dan nada dngan tinggi rendahnya suara atau panjajng pendeknya suara.
Pada awalnya metode peragaan lebih cenderung diberikan oleh guru untuk memperagakan gerakan-gerakan yang tersirat dalam teks sastra anak. Metode peragaan ini hampir sama dengan metode demonstrasi yang mengombinasikan teknik lisan dengan suatu perbuatan. Gerak raut wajah dan ucapan seorang ketika sedang marah tentu berbeda dengan raut wajah dan ucapan seseorang yang sedang dirundung kesedihan. Tutur kata, raut muka, dan gerakan badan seorang tokoh dapat diperagakan oleh guru di depan muridnya.
Metode Tanya-jawab dapat diberikn setelah terlebih dahulu siswa ikut terlibat dalam apresiasi sastra anak secara langsung. Artinya dapat dapat diajukan oleh seorang guru kepada siswanya setelah siswa itu membaca, mendengar atau menonton pertunjukan pentas sastra.

2.      Pelaksanaan Pembelajaran
            Pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra anak di sekolah dasar dapat dimulai dari kegiatan pra-KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) hingga KBM di kelas. Kegiatan pra-KBM dapat dilakukan dengan memberi salinan atau kopi teks sastra, diberi tugas membaca, menghafalkan, meringkas atau mencatat dan menemukan arti kata-kata sukar yang terdapat dalam teks sastra. KBM di kelas dapat dilakukan dengan memberi tugas membaca sajak, membaca cerita, berdeklamasi atau mendongeng di depan kelas, Setelah itu baru diadakan tanya jawab, menuliskan pendapat, dan berdiskusi bersama merumuskan isi, tema, dan amanat.

3.      Evaluasi Pembelajaran.
      Evaluasi pembelajaran apresiasi sastra itu hendaknya mengandung tiga komponen dasar evaluasi, yaitu :
a.       kognisi
Aspek kognisi artinya lebih mengutamakan pengetahuan bernalar atau pengembangan daya pikir sebagai kecerdasan otak.
b.      afeksi
Aspek afeksi artinya lebih mengutamakan unsur perasaan atau emosional.
c.       keterampilan         
Aspek keterampilan lebih mengutamakan kemampuan siswa untuk menyelesaikan tugas.
Dalam pembelajaran apresiasi sastra anak pada umumnya mengenal dua bentuk penilaian, yaitu:
a)      penilaian prosedur, yang meliputi penilaian proses belajar dan penilaian hasil belajar, dan
b)      instrumen atau alat penilaian, yang meliputi tanya jawab, penugasan, esai tes dan pilihan ganda. Oleh karena itu, evaluasi harus dijelaskan komponen dasar yang akan dievaluasi, artinya harus jelas aspek-aspek yang akan dievaaluasi.
Cara yang digunakan untuk mengevaluasi, misalnya dengan:
a)      Tanya jawab
b)      Penugasan
c)      Esai Tes
d)     Pilihan Ganda
Evaluasi dengan tanya jawab dapat diajukan secara lisan ketika sedang berlangsung proses belajar mengajar di kelas. Bentuk pertanyaan dapat dibuat dari yang paling sederhana hingga yang paling sukar. Tentu setiap pertanyaan mengandung bobot, dari yang berbobot paling rendah hingga yang paling tinggi. Pertanyaan dapat diajukan kepada semua siswa dengan jawaban tertulis atau langsung tanya jawab secara lisan yang diajukan hanya kepada beberapa siswa. Jelas dengan cara tanya jawab untuk mengetahui secara langsung tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajarinya.
Penugasan merupakan cara evaluasi untuk pengembangan kepribadian, perluasan daya berpikir siswa dan kreativitas emosional, serta memupuk keterampilan siswa. Bentuk penugasan dapat dipilih dari yang paling sederhana, misalnya membaca secara bergantian, menghafalkan teks sajak yang pendek atau berdeklamasi di depan kelasm hinga meningkat yang paling kompleks, seperti mencatat dan mencari kata-kata sukar dalam kamus, memberi ulasan sajak atau merumuskan amanat sajak.Penugasan dapat dilakukan di kelas ketika sedang berlangsung proses belajar mengajar, misalnya membaca cerita secara bergantian, membaca sajak, berdeklamasi, dan bermain peran atau juga sebagai tugas rumah untuk menghafalkan sajak, meringkas cerita, dan menyusun kamus kecil dari kata-kata yang terdapat dalam teks sajak atau cerita yang dibacanya.
Esai tes  diberikan kepada siswa untuk melatih menyusun kalimat secara baik dan benar, berpikir secara teratur dan runtut, dan menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Untuk esai pembelajaran apresiasi sastra anak tingkat sekolah dasar perlu dipilih bentuk-bentuk yang paling sederhana, misalnya ceritakan kembali dengan bahasamu dongeng berikut.
Bentuk pilihan ganda dalam evaluasi sudah tidak asing lagi bagi anak-anak sekolah dasar. Dengan cara evaluasi pilihan ganda ini anak dilatih untuk memilih salah satu dari beberapa jawaban yang tersedia. Anak tidak diberi kemungkinan untuk mengembangkan diri di luar jawaban yang tersedia. Meskipun demikian, dengan cara evaluasi pilihan ganda ini sebenarnya juga menuntun dan membimbing siswa kea rah tujuan yang pasti, Oleh karena itu, evaluasi pemblajaran apresiasi sastra anak di sekolah dasar pun dapat dibuat daengan pilihan ganda.



BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Sastra anak dapat diartikan sebagai ‘karya seni yang imajinatif dengan unsure estetisnya dominan yang bermediumkakan bahasa, baik lisan ataupun tertulis, yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak’.
Ada 3 ciri yang menandai sastra anak itu berbeda dengan sastra orang dewasa, diantaranya: Unsur pantangan, penyajian dengan gaya secara langsung, fungsi terapan. Sastra anak memiliki fungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian anak, serta menuntun kecerdasan emosi anak.
Pengertian dari kata apresiasi, yaitu kesadaran kita terhadap nilai-nilai seni dan budaya (sastra anak) serta penilaian atau penghargaan kita terhadap sesuatu (sastra anak). Jadi karya sastra anak merupakan penghargaan terhadap karya sastra yang dibuat oleh anak berdasarkan pengalaman, imajinasi, dan penglihatan anak sehingga menambah motivasi anak untuk meningkatkan karya sastranya.

B.     SARAN
Dalam pembelajaran apresiasi sastra anak di sekolah, fisik seorang guru harus sehat jasmaninya, tidak sakit-sakitan. Mentalnya pun harus sehat jiwanya, tidak sakit ingatan. Selain itu juga sebelum melakukan pambelajaran apresiasi sastra guru harus terlebih dahulu memilih bahan ajar dan menentukan metode pembelajaran.



DAFTAR PUSTAKA

Santosa, Puji, dkk. (2008). Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD.Jakarta:Universitas Terbuka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar